TL; DR – Very super friendly and fun community with delicious food
(take a minute to take a look my very little quote that might inspired you
)
History of Kartini’s Day
Once upon a time in the 19th century in Jepara, there was a woman named Raden Adjeng Kartini who was the daughter of a nobleman at that time. Because of his father’s social status, Kartini was able go to a European education institution until she was 12 years old. After Kartini was 12 years old she had to stay at home and not allowed to continue school or work as a woman like now, at that time all girls did not have the right to go to academy or university, work, pursue a career, or become a leader. The social gap between men and women at that time in Indonesia was very clearly bad, because of that Kartini want to advance the rights of indigenous women in order to have the same social status and rights as men. Kartini who was proficient in Dutch began to study alone at home and began writing letters for her friends from the Netherlands and her writings were published at De Hollandsche Lelie.
Until in 1903 Kartini was betrothed by her parents to the regent of Rembang named Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat who ever had 3 wives. Then Kartini’s husband gave freedom and supported Kartini to establish a women’s school in the Rembang region, then after Kartini died in 1904 an ethical political figure named Van Deventer founded the Kartini Foundation which was used to expand the women’s school founded by Kartini and named “Sekolah Kartini” was established in Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon and other regions. The Kartini School which was founded by Kartini in Rembang is now converted into a Scout Building(Gedung Pramuka). Kartini was born on April 21, 1879 which was therefore declared on April 21 as Kartini’s Day and celebrated annually by Indonesian women because Kartini was an Indonesian national hero who fought for the emancipation of Indonesian women. Usually Indonesian women commemorate Kartini Day by wearing kebaya special in that day.
So a week ago me and my Indonesian friends we were celebrating Kartini’s Day in Glenmont park, we had a traditional food there such as : Tumpeng(yellow rice that we made it in mountain shape), nasi kebuli(rice cooked with beef or lamb), nasi padang(an authentic North Sumatra dish), satay, bakso(meatball soup served with noodle and vegetable), ayam bakar(grill chicken), fried noodle, fried rice, fried rice noodle, several kind of authentic Indonesian dessert, coffee and juice. All taste delicious ![]()
They do trivia quiz, singing some national songs, dance, karaoke, and giving doorprize. We don’t know each others even though we’re all Indonesian and in this event we all try to know each others, we start chit chat, joking, and laughing together. There were around more than 100 Indonesian people in this event, old, young, teens, kids… we all blended soo well and we enjoy our time so do i
I am glad that i found such a great community here and be part of them
Be friends!! don’t look at differences, because the differences that make life more even colorful “
How about you? Do you have a fun community like me? Leave a comment below
or in discussion forum and let me know what you think! Don’t forget to share on your favorite social media
Thanks for reading!
Indonesian Language / Bahasa Indonesia
Ketika saya merayakan Hari Kartini bersama teman-teman saya di sebuah acara Komunitas Indonesia di taman Glenmont, Maryland. Itu menakjubkan!!!! Ngomong-ngomong, saya akan memberitahu anda siapa itu Kartini !!!
TL; DR – Komunitas yang super sangat ramah dan menyenangkan dengan makanan yang lezat
(luangkan waktu sedetik untuk melihat kutipan mungil saya yang mungkin akan menginspirasi anda
)
Sejarah Hari Kartini
Dahulu kala pada abad ke 19 di Jepara, ada seorang wanita bernama Raden Adjeng Kartini yang merupakan anak perempuan dari seorang bangsawan pada zaman itu. Karena status sosial ayahnya, maka Kartini dapat bersekolah di sebuah lembaga pendidikan Eropa hingga ia berusia 12 tahun. Setelah Kartini berusia 12 tahun dia harus tinggal dirumah dan tidak diizinkan melanjutkan sekolah lagi atau bekerja sebagai mana layaknya para wanita masa kini, pada masa itu seluruh anak perempuan tidaklah memiliki hak untuk bersekolah tinggi, bekerja, berkarir, apalagi menjadi pemimpin. Kesenjangan sosial antara laki-laki dan perempuan pada masa itu di Indonesia sangatlah jelas, karena itu Kartini tergugah ingin memajukan hak perempuan pribumi agar bisa memiliki status sosial dan hak yang sama dengan laki-laki. Kartini yang mahir berbahasa Belanda mulai belajar sendiri di rumah dan mulai menulis surat-surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda dan tulisannya pun dimuat di De Hollandsche Lelie.
Hingga pada tahun 1903 Kartini pun dijodohkan oleh orang tuanya dengan bupati Rembang yang bernama Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah memiliki 3 istri. Kemudian suami Kartini pun memberi kebebasan dan mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita di wilayah Rembang, lalu setelah Kartini meninggal pada tahun 1904 seorang tokoh politik etis bernama Van Deventer mendirikan Yayasan Kartini yang difungsikan untuk memperluas sekolah wanita yang didirikan oleh Kartini dan menamai sekolah itu “Sekolah Kartini” yang didirikan di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Sekolah Kartini yang didirikan oleh Kartini di Rembang kini dialihfungsikan sebagai Gedung Pramuka. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 karena itulah tanggal 21 April dideklarasi sebagai Hari Kartini dan diperingati setiap tahunnya oleh perempuan Indonesia karena Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Biasanya para perempuan Indonesia memperingati Hari Kartini dengan bersama-sama mengenakan kebaya khusus pada hari itu.
Jadi seminggu yang lalu saya dan teman-teman Indonesia saya, kami merayakan Hari Kartini di taman Glenmont, kami memiliki makanan tradisional di sana seperti : Tumpeng, nasi kebuli, nasi padang, sate, bakso, ayam bakar, mie goreng, nasi goreng, kwetiaw goreng, beberapa jenis makanan penutup asli Indonesia, kopi dan jus. Semua rasanya lezat ![]()
Mereka melakukan kuis trivia, menyanyikan beberapa lagu nasional, menari, karaoke, dan memberikan doorprize. Kami tidak mengenal satu sama lain meskipun kami semua orang Indonesia dan dalam acara ini kami semua mencoba mengenal satu sama lain, kami mulai mengobrol, bercanda, dan tertawa bersama. Ada sekitar lebih dari 100 orang Indonesia di acara ini, tua, muda, remaja, anak-anak … kami semua berbaur dengan sangat baik dan kami menikmati waktu kami begitupun saya
saya senang menemukan komunitas yang menakjubkan di sini dan menjadi bagian dari mereka ![]()
Bertemanlah!!! jangan memandang perbedaan, karena perbedaanlah yang membuat hidup lebih berwarna “
Bagaimana dengan anda? apakah anda memiliki komunitas yang menyenangkan juga? Beri tahu saya di komentar dibawah
atau di forum diskusi dan jangan lupa berbagi di sosial media favorit anda
Terima kasih telah membaca!

Leave a Reply